Sebuah Jurnal Pribadi
Satu jentikkan jari
Aku akan
mulai banyak menggunakan kata – kata aku, karena mungkin egoisitas diriku mulai
timbul. Dimana keinginan untuk tidak menggunakan kata subjek pada tulisan –
tulisan yang sebelumnya sama sekali tidak mempertanggungjawabkan apa yang
kutulis. Itulah hal yang akan kusampaikan pada beberapa kalimat kedepan. Aku
dan aku dan aku mulai menemukan diriku kembali setelah 3 tahun ini.. Penggunaan
kata aku ini berasal dari keberanian untuk bisa mempertanggungjawabkan apa yang
kita bicarakan maupun apa yang kita pikirkan dengan hati yang jujur. Baru kali
ini, seakan – akan pikiran ini tidak pernah berhenti berputar. Mencari ide –
ide baru. Aku serasa lepas dan bebas. Pada akhirnya aku akan belajar untuk
menemukan jejak langkahku sendiri. Dimulai dari hari ini. satu orang akan
berkata “kamu itu mirip dengan seseorang” namun aku juga tidak ambil peduli.
Karena aku bukan orang lain, dan aku akan menggunakan aku untuk mendobrak batas
– batas yang ada.
Satu
tahun berada di Kota London ini. Seakan berlalu begitu saja,
dengan sebegitu banyak pengalaman yang
didapat. Waktu seakan – akan pergi hanya dengan satu jentikan jari. Yang
tertinggal hanyalah beberapa bekas kenangan saja. Sudah saatnya aku berangkat mencari sesuatu
yang baru lagi untuk dipelajari. Satu tahun di tahun 2005 di Bandung. Satu tahun di tahun 2006 di Singapore
Ada yang skeptis namun ada juga yang menyegarkan. Ada juga yang memakai topeng dibalik topeng. Memang
dunia ini seperti sebuah panggung dengan sebegitu banyaknya topeng.
Pada saat ini lah aku akan bercerita mengenai kehidupan sehari – hariku. Bukan sisi yang lain, namun hanya sisi yang biasa.
Ada kalanya aku menghabiskan malam minggu hanya dengan dentingan piano dengan permainan yang biasa – biasa saja, dan nyanyian yang sungguh terdengar indah dari teman terbaikku ya dengan mereka aku biasa menghabiskan waktu hanya untuk melantur. Ada kalanya kadang2 aku pergi ke taman –taman yang sungguh menarik disini, ada sungai, ada hamparan rumput yang begitu luas, ada gundukkan rumput yang memang sudah seperti itu adanya, ada pohon ratusan tahun umurnya, semua dibiarkan tumbuh dengan tertata.Ada juga kadang – kadang bagaimana kekonservatifan yang ditata seakan – akan berintegrasi dengan pepohonan dan taman – taman yang ada. Tidak ada filosofi yang jelas yang mendasarinya, hanya saja itu serasa tumbuh dengan semangat konservasi terhadap alam.. Sungguh berbeda dengan ironi babakan siliwangi di bandung, ya itu masih diperdebatkan memang… Hal ini membuat sedikit banyak sadar, bahwa negeriku sungguh tidak tertata. Setiap hari aku akan bangun tepat pada jam 7 pagi, pada saat jam 7 pagi, pada setiap hariku, ada panggilan dari Indonesia, aku tidak akan mengangkatnya karena itulah panggilan bangun pagiku.. ada juga terkadang perbincangan tengah malam Hari.Kadang kala aku tertidur di depan komputerku, hanya karena email yang kutulis setiap harinya….atau beberapa email yang hanya kubiarkan di inbox tidak terbalas karena waktu memang sungguh mengukung. Hari minggu kuhabiskan dengan bermain piano membantu untuk perayaan ibadah. Kehidupan yang sederhana. Namun apabila ada tiga aspek yang terpenting dalam arsitektur, ada jalan2, ada pemikiran dan ada karir / pekerjaan. Pemikiran ada di urutan teratas, kemudian jalan – jalan ada ditengah dan kemudian barulah karir / pekerjaan ada di bagian terakhir. Pengalaman itu ada bukan hanya dalam satu garis CAD drawing. Namun ada pada saat kamu berjalan – jalan. Ketika kamu berempati terhadap lingkungan sekitar. Membuka mata lebih jelas dan mendengar lebih seksama.
Arsitektur
dan karir. Karir itu ada di dalam hidup tapi Hidup itu tidak ada di dalam karir dalam
artian langsung. Karir itu satu dari beberapa aspek dalam hidup. Karir itu
penting karena itu berkaitan dengan bagaimana kita bertindak terhadap sekitar
kita. Karir tidak akan memahat karakter kita begitu dalam. Karir itu hanya
hitungan jam dan hasil. Seperti seorang arsitek yang bekerja dengan diagram dan
bangunan. Apapun hasil nya, karir hanyalah seperti itu, ada dalam hitungan jam
dan hasil. Perdebatan akan berlangsung sangat sengit apabila kita berbicara
mengenai karir, karena sedikit banyak itu akan menyerempet aspek terpenting
kita, yaitu harga diri. Ya itu bagaimana kita dilihat oleh orang lain.
Bagaimana tingkatan kita dimata orang lain. Bahkan hati pun tidak akan
berbicara kalau idealisme pemikiran kita tercoreng begitu saja. aku secara aku
ngga pernah berharap untuk bisa ada di tempat ini, aku disini bukan karena aku.
Tapi karena orang – orang yang ngedukung, kita ada di jalinan rantai yang
saling dukung mendukung. Semua tergantung pikiranmu sendiri. Semua tergantung
apa maumu. Apabila kamu menginginkan sesuatu, dapatkanlah, persiapkanlah.
Segala yang kita dapat bukan hanya satu jentikkan jari. Tapi kehilangan akan
semua usaha kita bisa dalam satu jentikkan jari.. semua yang kita raih
sekarang, bisa aja hilang. Kalo itu hilang. Aku ngga akan pernah ngerasa hilang...
Banyak arsitek yang terdikte oleh karir mereka. Mereka tenggelam dalam kesendiriannya dalam ide – ide yang akan merubah dunia. Semua itu butuh pengorbanan antara idealisme arsitek dan dorongan kapitalis. Sungguh miris, arsitek yang pendeta dalam perubahan perkotaan yang lebih baik, harus tunduk dalam kungkungan waktu dan idealisme yang akan merusak hidupnya. Kita ada di era yang semakin cepat dan teknologi yang semakin handal. Arsitektur itu pada akhirnya boleh saja dihayati seperti keyakinan yang teguh. Namun pada akhirnya, hidupmu bukan sebatas bentuk yang elegan dan gestalt bentuk. Yang aku rasain, disini hambatan begitu besar, mungkin ngga semudah yang dikira. Seringkali harus tunduk dalam stigma – stigma kebaratan dan rasialisme di kantor. Kata buktikan kembali muncul bahwa kita harus bisa. Banyak orang dan aku sendiri memang belum sampai ke tahap itu. Namun pada saat itu aku akan punya wanitaku untuk hanya ada. Arsitek itu seharusnya orang yang paling bahagia dalam hidupnya. Dia harus punya respek terhadap orang – orang sekitar. Dan orang yang akan berkompromi dengan sekitar. Karena dia akan merubah segala sesuatu yang ngga baik dalam tatanan perkotaan dan mempunyai visi untuk bisa mengubah tatanan. Arsitek seharusnya bukan orang autis. Ia harus sensitif terhadap orang lain. Itu dulu yang terutama. Bukan aku, tapi kita dalam hanya satu jentikkan jari. Hanya satu.
Ada kalanya kita seperti ada di satu
pengadilan dalam masyarakat. Dimana kamu dinilai dari keputusan yang kamu
ambil. Namun pada akhirnya aku kembali
sadar, bahwa kita tidak hidup dari aku itu sendiri. Kamu hidup untuk orang –
orang yang terpenting dalam hidupmu. Aku tidak pernah ambil peduli terhadap pandangan
umum, jadilah terang asal itu wajar kemudian tertawakan dirimu dalam masa
depan. Itu satu hal yang sungguh baik untuk dijalani. Ada kalanya mendengar pemblokiran
site oleh pemerintah karena satu buah video. Sebuah cara yang sangat tidak
masuk diakal. Terkadang kita berpikir kerdil. Membuat solusi yang konyol
dengan isu yang lebih besar tidak
terselesaikan. Informasi itu ada dimana –mana sementara ini, kita hanya bisa
jujur menghadapi informasi… tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah
pemblokiran informasi. Cepat atau lambat itu akan sia – sia . Semua ini membuat
kita hanya bisa menghela nafas..Ada
kalanya ku mendapat email mengenai peristiwa 23 mei yang sungguh mungkin untuk
terulang. Sungguh pedih rasanya ketika mendengar kembali peristiwa itu. Ketika
bencana – bencana kembali berulang dan mengakibatkan banyak korban jiwa.Ada saja orang – orang
yang berbicara dan bertindak demi perutnya sendiri. Sungguh miris bagaimana
seringkali kita dipermainkan oleh system yang kita buat sendiri. Manusia
membuatnya dan manusia jugalah yang mempermainkannya. Mari kita tunggu akan
jadi apa segala kondisi dalam tahun – tahun ke depan.
Aku
berdoa semoga bulan – bulan ke depan akan semakin menarik dijalani dan dipahami.
Dan cerita kemarin sudah usai dan cerita esok akan kembali dimulai
mengenai apa yang terjadi… nanti.











Recent Comments